Aksi Massa - Tan Malaka
"Kemerdekaan harus diperjuangkan, bukan diminta-minta!" — Tan Malaka.
Mungkin juga tentunya banyak yang belum kenal beliau ini siapa, kataku kalian wajib kenalan dan stalking soalan beliau! Dia adalah seorang maniak buku yang selalu diburu di mana pun ia berada. Begitulah Tan Malaka. Dalam tulisan pertamaku ini, aku bakalan mengupas penuh mengenai bukunya beliau yang berjudul "Aksi Massa". Tenang, ini gak bakalan jadi spoiler kok, aman. Tapi kalau kesannya agak spoiler di tulisan ini, anggap aja khilaf hehe. Beberapa dari kakak dan abang-abang mahasiswa tentunya tidak asing dengan beliau dan karyanya karena banyak diantara mereka yang berorganisasi suka sekali membaca mengenai beliau. Di sini, aku mau menjelaskan tentang sudut pandangku mengenai buku ini tentunya bakalan ala gen z ini.
Dari judul dan sampul merahnya cukup menarik perhatianku walau terlihat sangat flat dan tidak se-colorfull "Laut Bercerita" atau sampul dari karya-karyanya Tere Liye. Dan yup, pastinya kalian semua bakalan bilang kalau buku ini pastinya membosankan dan hanya khusus untuk bapak-bapak sebagai target pasarnya. aslinya buku ini tuh target pasarnya adalah kita, kaum remaja yang masih kinyis-kinyis yang jadi generasi selanjutnya buat bangsa dan negara ini. Gen z yang orang-orang di generasi-generasi tua bilang generasi paling tidak tahu-menahu tentang apapun itu. Menurutku kita bisa menepis omongan orang-orang ini dengan mencoba melakukan sesuatu yang lebih menantang dari generasi tua lakukan, ayo mulai revolusi itu dari kasur nyaman-mu itu dengan buku-buku seperti ini!
Kalau kalian adalah manusia-manusia yang membenci oligarki, penguasa, kebijakan dan sistem yang tidak berpihak pada rakyat, koruptor serta kapitalisme buku ini aku sarankan untuk kalian. Di dalamnya ada sedikit tutorial untuk revolusi dan bagaimana cara memobilisasi massa bagi para pemberontak kecil seperti kita. Di dalamnya juga berisi berbagai macam imprealisme dan kapitalisme di Indonesia.
Tan Malaka sejak 1926 : Kita gak bisa berharap sama elite borjouis!
Buku ini ditulis pada tahun 1926. Aksi massa atau massa actie ini muncul dalam konteks kebangkitan gerakan buruh, petani, dan nasionalis yang menuntut kemerdekaan. Tan dalam buku ini hadir sebagai seorang marxist yang menekankan mobilisasi massa yang terorganisir sebagai kekuatan utama untuk mencapai kemerdekaan dari perbudakan sosial-politik. Di sini Tan Malaka mencoba buat menjabarkan poin-poin soal how to make a biggest revolution for a better life, kesadaran politik untuk rakyat dan sipil yang masih terjajah oleh sistem dan perbudakan oligarki dan borjouis juga ngomongin perihal ketidakadilan sosial karena masih banyak kaum yang terpinggirkan kayak buruh, petani, kaum miskin kota, dan lainnya yang belum meraih arti merdeka sepenuhnya karena adanya ketidakadilan sosial.
Ada beberapa poin utama yang meliputi buku ini yang menurutku menjadi sebuah wawasan yang berkesan buat kita contoh seperti Tan Malaka gak suka basa-basi, langsung sat-set dengan menyatakan kalau sistem kolonial dan kapitalisme itu biang kerok dari kemiskinan. Jadi, beliau ngasih solusi berupa revolusi! Kalau lo ngira revolusi itu cuma ganti presiden atau ganti bendera kayak yang lo baca dibuku-buku sejarah pas lo masih SD, tentunya revolusi gak segampang yang lu bayangin dan gak gitu, gak yang ganti bendera langsung revolusi soalnya hal begitu belum cukup. Tan bukan tipikal manusia yang main-main soal revolusi buat dia revolusi tuh bukan perihal merdeka doang dari penjajah, tapi ngerombak sistem yang bikin rakyat sengsara.
Tan maunya revolusi secara politik dan ekonomi karena dia ngeliat situasi pada masa itu terlalu menyusahkan rakyat dengan banyaknya kebijakan dari sistem kolonial yang membebani rakyat ditambah lagi dengan kapitalisme internasional yang makin menindas rakyat. Menurut Tan, revolusi tuh bukan cuma orang-orang berduit yang kaya dan elit doang yang bisa ngelakuin itu tapi revolusi ini tuh harus di pimpin sama buruh, tani, dan rakyat miskin karena mereka juga punya power buat mengubah keadaan. Jadi, ini bukan cuma soal bangsa tapi soal kelas. Ini yang dia sebut sebagai aksi massa — gerakan kolektif dari kesadaran kelas para rakyat kecil yang sadar sama penindasan yang mereka alami.
Tan juga menolak keras perubahan yang gak niat alias cuma setengah-setengah tapi reset total. Dia maunya perubahan yang menghancurkan sistem yang menindas seperti sistem feodal, kapitalis, dan kolonial terus diganti sama sistem yang baru dan adil buat rakyat. Kayak uninstall sistem lama terus install ulang yang baru, yang adil merata buat semuanya. Jadi ini bukan reformasi birokrasi, tapi perombakan total struktur sosial.
Tan banyak terinspirasi sama revolusi Bolshevik di Rusia, di mana kaum buruh dan tani mengambil alih kekuasaan. Dia melihat hal ini sebagai blueprint buat perjuangan di Indonesia. Di sana, kaum buruh bangkit buat melawan penguasa terus mengambil alih kekuasaan. Dia pengen Indonesia juga ngelakuin hal yang sama, versi lokalnya. Gak bisa asal demo doang yang kayak para buzzer nyebutnya, "UDAH CAIR", "PALING JUGA DISURUH TUANNYA", "CIE MAHASEWA", "PASUKAN SAKIT HATI" "FOMO" dan lainnya. Menurut Tan, rakyat harus ngerti dulu sama siapa musuhnya dan kenapa musuhnya menindas mereka. Makanya, dengan adanya sedikit pendidikan politik rakyat bisa ngeh sama keadaannya dan ini wajib banget buat diajarin ke rakyat. Biar revolusinya gak asal gebrak sana-sini gak jelas, tapi sadar sama apa tujuannya ngelakuin aksi.
Intinya revolusi ala Tan Malaka nih bukan revolusi yang ecek-ecek, tapi murni gerakan rakyat yang sadar, terorganisir, dan niat buat ubah dunia dari akar-akarnya.
"GAK CUKUP MERDEKA DOANG SECARA POLITIK, KITA JUGA HARUS MERDEKA SECARA EKONOMI DAN SOSIAL"
Massa Actie : Panduan perlawanan sejati!
Dalam buku ini, Tan mengkritik sistem kapitalisme serta mengecam sistem kolonial yang memperburuk keadaan rakyat karena cuma menguntungkan elit. Kata Tan dalam aksi massa halaman 55-56,
"Jika kita mau tahu berapa jumlah buruh industri, kebun-kebun, dan pengangkutan, tentulah dengan jalan itu kita ketahui berapa banyaknya 'budak belian kolonial' yang kelaparan di Indonesia. Sebagian besar dari buruh industri itu miskin, sebab kepada perusahaan besar-besar itu, mereka harus menjual atau menyewakan tanahnya, hingga akhirnya kehilangan tanah dan mata pencaharian."
Kutipan ini menyoroti bagaimana kapitalisme memaksa rakyat, khususnya buruh yang kehilangan tanah dan mata pencaharian mereka sehingga terjerumus dalam kemiskinan dan eksploitasi dari kapitalisme dan kolonialisme.
Tan Malaka lagi nyentil keras sistem kolonial dan kapitalis yang ngerampas hak rakyat. Dalam sistem yang najis banget itu, buruh sama petani dipaksa buat jual atau sewa tanah mereka ke perusahaan-perusahaan gede punya-nya penjajah, borjuis dan lainnya. Biar apa? ya, tentunya biar bisa survive buat kehidupan selanjutnya. Tapi, ujung-ujungnya mereka malah jadi nggak punya apa-apa. Tanah hilang, kerjaan gak jelas, dan hidup melarat. Kapitalisme kolonial itu bukan cuma ngerampas secara fisik, tapi juga matiin harapan hidup orang-orang kecil kayak kita. Yang kaya makin kenyang, yang miskin makin lapar.
Basically, Tan Malaka bilangnya tuh gini, "Lo semua ngira kalau ini penjajahan cuma soalan politik dan wilayah doang? Nggak bro, ini urusan perut rakyat juga. Sistem kapitalis ini nge-bikin rakyat jadi budak di tanahnya sendiri". Jadi, dibutuhkan revolusi dari rakyat bawah dan pemuda yang mageran kayak kita buat mikirin nasib ke depannya rakyat sama negara ini tuh mau gimana.
Buku ini menjelaskan kalau aksi massa itu diperlukan dalam bentuk demonstrasi, pemogokan, dan bentuk perlawanan lainnya sebagai alat buat ngejatuhin sistem yang menindas. Tan Malaka gak percaya sama perubahan yang datangnya dari atas — dari elite politik yang cuma bisanya ngasih janji-janji manis kayak buaya pas lagi pemilu, reformasi setengah hati yang gak ikhlas, atau janji-janji penguasa buat menyejahterakan rakyat. Solusi yang Tan kasih itu revolusi, tapi bukan yang asal-asalan. Revolusi yang Tan maksud itu adalah :
- Gerakan Kolektif dari rakyat bawah, revolusi yang dimulai oleh rakyat itu sendiri — kaum buruh, tani, dan rakyat miskin kota yang terus-terusan jadi korban eksploitasi kapitalis. Caranya gimana?
b. Pemogokan (Strike) di pabrik, pelabuhan, perkebunan, dan lain-lain
c. Organisasi rakyat yang militan dan sadar kelas
d. Bentuk perlawanan lain yang sistematis dan terarah
Ini semua disebutnya sebagai "aksi massa" — senjata paling ampuh buat runtuhin segala penindasan yang udah akut.
- Revolusi itu harus terencana dan terorganisir, Tan gak nyuruh orang-orang cuma misuh-misuh marah doang tapi rakyat harus punya pendidikan politik, organisasi revolusioner juga harus ada sama harus ada visi yang jelas buat masa depan. Bukan cuma tumbangkan doang tapi harus bangun sistem yang barus yang adil.
Banyak gerakan sosial di zaman sekarang masih pakai konsep yang Tan Malaka bahas. Dari demo buruh sampai protes kebijakan negara, semuanya ada benih-benih dari Aksi Massa di sana. Buku ini beda sama buku-buku filsafat kayak Madilog yang bikin puyeng sama ribet, Aksi Massa langsung ngajarin eksekusi ke massa buat melawan ketidakadilan. Walau bahasanya old-school banget, maklum terbitan sebelum orang tua kita lahir tapi buku ini bagus banget buat yang suka pergerakan sosial atau sejarah. Tapi buku ini gak kaku dan nge-bosenin. lebih mirip guidebook untuk revolusi yang isinya bukan cuma teori politik biasa.

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar